Manusia tergolong mahluk yang memiliki peran yang cukup banyak. Semakin manusia itu menginjak dewasa dan memperoleh sesuatu atau keahlian, atau sebuah kelebihan, maka semakin tambah juga peran manusia tersebut.
Misalnya mereka yang tadinya anak-anak yang kerjanya hanya bermain, seiring berjalannya waktu ia menginjak usia sekolah dasar, SMP, dan SMA, itu artinya peran mereka bertambah yaitu sebagai seorang siswa dan peran dikeluarga juga bertambah yaitu sebagai kakak untuk adik-adiknya. Begitu juga di sekolah selain siswa mungkin ia juga bisa menjadi seseorang yang dipercaya untuk memimpin suatu organisas, misalnya OSIS atau organisasi Pramuka dan lainnya. Demikian dimasyarakat, karena ia sudah dianggap mampu tidak menutup kemungkinan ia juga dipercaya sebagai orang yang menduduki jabatan organisasi kepemudaan desa, yaitu Karang Taruna. Dan seterusnya.
Tak terkecuali juga ketika mereka sudah berada di perguruan tinggi atau ketika mereka sudah menikah, tanggung jawab mereka akan semakin berat.
Bagi mereka yang setia mengikuti proses dan sadar akan kodratnya maka ialah yang akan memahami diri dan garisan-garisan atau rambuh-rambuh masalah kelayakan sesuatu untuk dilakukan atau tidak dilakukan.
Misalnya seorang anak sadar bahwa ia adalah seorang anak kebanggaan orang tua nya, yang harus senantiasa bersikap patuh dan mentaati apa yang diperintahkan oleh orang tua mereka. Ia juga harus bisa bersikap yang sesuai ia sebagai seorang anak, sebagai kakak untuk adik-adiknya, atau bagaimana seharusnya ia bersikap kepada gurunya tercinta lingkungan, dan dan temannya.
Lalu ketika mereka menjadi orang tua, ia juga harus bersikap yang sesuai bagaimana peran yang baik untuk anaknya, istri atau suaminya.
Hal itu juga berlaku ketika mereka berada dilingkungan masyarakat. Bagaimana ia harus mampu menempatkan dirinya sesuai dengan kodratnya dan tanggung jawab yang ia pikul pada saat berada di masyarakat.
Artinya manusia harus mampu memposisikan dirinya sesuai dengan kemampuan dan tanggung jawabnya. Namun sayang sekali kenyataan yang sering ditemui dilapangan tidak seperti demikian. Karena nafsu Dan keinginan yang berlebih maka sangat banyak ditemukan manusia yang keluar jalur kelayakan tersebut.
Seorang anak durhaka kepada orang tua. Kakak berbuat kasar dan memberikan contoh yang kurang baik kepada adiknya. Orang tua bersikap kasar kepada anak atau istrinya atau sebaliknya istri bersikap kasar kepada suaminya. Murid bersikap kurang ajar kepada gurunya. Guru suka main kekerasan terhadap muridnya.
Contoh lain nya misalnya, seorang kepala desa menggunakan kekuasaan hanya untuk menjalankan kepentingan dan misi pribadi, keluarga atau orang terdekatnya. Camat yang hanya mementingkan urusan perutnya sendiri. Bupati yang menggunakan kekuasaan untuk membangun istana pribadi dan memperluas daerah kekuasaan agar ketika sudah tidak menjabat ia sudah mempunyai harta Gono gini yang tidak akan habis tujuh turunan. Demikian juga gubernur, dan para pejabat suatu negara yang lain sampai presiden sekalipun.
Sebagai contoh juga seorang ahli pendidikan menjadi seolah tak memahami makna pendidikan. Ia suka memanfaatkan keahliannya hanya untuk kepentingan pribadi.
Bahkan seorang ulama atau sejenisnya, juga sering kali keluar jalur kelayakan yang dimaksud diatas.
Begitu lah kalau yang didewakan hanya nafsu, dan tanpa mengindahkan rambuh-rambuh yang ia temukan dan pahami dalam perjalanan mereka.
Seorang pemimpin yang seharusnya mengayomi masyarakatnya tetapi yang ia lakukan malah menindas masyarakatnya. Pemimpin yang seharusnya banyak memberi untuk kepentingan masyarakatnya malah yang ia lakukan banyak mengambil apa yang dimiliki oleh masyarakatnya untuk kepentingannya dirinya sendiri.
Mereka seakan lupa dengan sumpah jabatan yang ia ucap pada saat mereka mau jadi pemimpin. Lupa kepada niat awal ketika mereka mau mulai melangkah atau memang sengaja dilupakan entah lah, hanya ia dan tuhan yang tahu.
Untuk itu mari kita senantiasa ingat akan kodrat dan tanggung jawab kita masing-masing. Jangan suka mengambil peran yang bukan peran kita. Misalnya seorang Raja harus bersikap layaknya seorang raja yang suka mengayomi dan mendahulukan kepentingan rakyatnya. Seorang Pati patuh dan bersikap terbuka kepada pimpinannya. Prajurit setia dan bersikap sesuai layaknya prajurit kepada pimpinannya. Begitu juga rakyatnya juga harus bisa bersikap dan menempatkan dirinya sebagai seorang rakyat. Akhir kata mari kita menjalankan peran dan tanggung jawab kita sesuai apa yang seharusnya.Dengan begitu insyaallah dunia ini akan damai, sejahtera, serta makmur.
Ditulis oleh: Yandi seorang sarjana S.1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan saat ini berprofesi sebagai pendidik disalah satu sekolah swasta.
Komentar
Posting Komentar