Manusia sebagai makhluk Tuhan yang maha esa sudah dibekali akal dan pikiran. Dan dibalik identitas diri manusia sebagai makhluk Tuhan itu dan bekal akal serta pikiran yang ia miliki, manusia juga memiliki peran lainnya, yaitu sebagai makhluk individual dan juga mahluk sosial, serta mempunyai bekal yang juga tidak kalah berpengaruh atas keseimbangan dirinya, yakni berupa hawa nafsu.
Peran sosial menuntut bagaimana kita percaya kepada sesama, saling menghargai perbedaan, serta saling bahu membahu mengarungi samudra kehidupan.
Selain itu, sebagai mahluk sosial juga tentu yang dibutuhkan adalah kedewasaan untuk menerima kenyataan-kenyataan yang mungkin tak sesuai dengan harapan.
Mahluk Individual menuntut keyakinan kepadanya serta menuntut keyakinan kepada diri sendiri.
Kemudian sebagai mahluk individual kita membutuhkan pendirian yang teguh terhadap prinsip-prinsip yang mendasar.
Namun untuk mencapai itu semua, manusia juga memiliki tantangan yaitu berupa bekal yang selain akal dan juga pikiran yaitu yang disebut dengan hawa nafsu. Hawa nafsu ini yang bisa mengangkat derajat umat Muhammad setinggi gunung, dan sebaliknya hawa nafsu juga bisa menjatuhkan mereka ke jurang kerendahan dan kenistaan.
Oleh karena itu umat manusia harus senantiasa sadar. Sadar bahwa ia siapa, dari mana, mau apa, dan mau kemana?.
Manusia sering sekali melakukan kelalaian dan lupa diri, baik ketika diberi sempit maupun di beri lapang.
Ketika diberi sempit manusia hilang kesadaran bahwa ia punya Tuhan yang sudah menjamin hidup dan matinya. Tuhan yang telah menganugerahkan karunia untuknya. Ia lupa bahwa tugasnya hanya untuk merawat apa yang ada dimuka bumi sesuai dengan kapasitas yang ia miliki. Namun kerena nafsu tadi, manusia menjadi gelap mata hingga bukannya merawat malah berbuat kerusakan diatas muka bumi, menjadi suka mengeluh kepada dirinya, lingkungan bahkan kepada Tuhannya. Meski sebetulnya ia sudah mendapatkan apa yang ia usahakan, tetapi karena nafsu tadi, umat manusia menjadi seakan lupa untuk bersyukur dan selalu merasa kekurangan.
Pun sebaliknya ketika diberi lapang, manusia juga lupa daratan. Ia merasa tidak menginjakan kakinya dibumi lagi, merasa berkuasa atas segala hal hingga sering bertindak dengan semaunya.
Manusia yang seharusnya ketika diberi lapang, ia sadar dan lebih banyak bersyukur bahwa ia diberikan kesempatan dan kepercayaan yang lebih oleh yang menciptakannya, untuk mengelola lingkungan sekitar tempat ia diberi kuasa.
Ini malah menjadi penjajah atas kepercayaan yang ia dapatkan.
Untuk itu tantangan kita yang sesungguhnya ada disini yaitu "Sadar". Jika kita mampu untuk sadar terhadap kodratnya keadaan (kalau bahasanya KH.Hadjar Dewantara), atau menurut bahasa salah satu ilmuwan Brazil, yaitu Paulo Freire juga tentang "Sadar", yakni "Sadar bahwa kita sedang terjajah", maka insyaallah umat manusia akan bisa terlepas dari belenggu hawa nafsu yang tidak terbendung tersebut.
Terakhir Dengan adanya perjalanan dan luasnya dan ruang dan peluang yang diberikan, seharusnya kita mampu membaca frekuensi yang satu dengan dengan apa yang sudah digariskan oleh-nya. Semakin menyadarkan diri akan peran dan kodratnya keadaan kita sebagai pengelola apa yang telah dipercayakan sang maha pencipta.
Ditulis oleh: Yandi seorang sarjana S.1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan saat ini berprofesi sebagai pendidik disalah satu sekolah swasta.
Komentar
Posting Komentar