Langsung ke konten utama

*Robert Si Laki-laki Pendiam* (Part 1)




Oleh: Admin 


Robert adalah salah seorang anak laki-laki yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ia termasuk anak yang sangat pendiam. Selain pendiam ia juga memiliki keunikan tersendiri. Salah satu keunikannya yaitu setiap saat bel istirahat berbunyi ia selalu pergi ke perpustakaan. Bukan karena ia gemar membaca buku di perpustakaan!. Namun itu hanya pelariannya untuk menghabiskan waktu istirahatnya. Sebab karena sikap pendiam nya itu hingga membuat Ia tidak memiliki teman untuk bermain.


Selain itu ia juga tidak suka olahraga bahkan tidak ada satupun cabang olahraga yang diminatinya. Hal ini karena faktor pendiam nya yang sangat berlebihan, terkadang seakan ia merasa setiap orang sedang memperhatikannya. Padahal belum tentu itu benar. 


Itulah sosok Robert  seorang anak laki-laki yang unik dan buta akan pengetahuan sosial. Ia selalu menarik diri dari kerumunan orang, hal itu karena saking merasa mindernya ketika bergabung dengan orang banyak.


Banyak faktor yang menyebabkan ia menjadi seperti itu. Salah satu faktor itu adalah karena ia memang terlahir dari keluarga yang bukan hanya kekurangan tetapi sangat kekurangan. Robert juga memiliki dua saudara laki-laki, dan ia merupakan anak tertua dari kedua adiknya itu. Sementara orang tuanya waktu  Robert masih kecil, rumah pun tidak punya. Sehingga mereka harus tinggal bersama neneknya. Yang ternyata kurang akur sama orang tua perempuan atau ibunya. 


Karena tidak akurnya ibu sama neneknya itu, maka ayahnya mengajak mereka untuk meninggalkan rumah neneknya tersebut. Dan merantau ke luar kota. Di luar kota kehidupan mereka perlahan membaik, orang tuanya akhirnya mempunyai tabungan yang cukup lumayan. 


Tetapi yang namanya manusia tentu bisanya hanya berencana dan berusaha,  dan mengenai kepastian hasilnya tetap kembali ke yang maha penentu segala sesuatu, yaitu Allah SWT.


Sebab setelah beberapa lama mereka hidup di rantau. Neneknya atau orang tua dari bapaknya yang memiliki hubungan kurang baik dengan ibunya, tiba-tiba minta mereka untuk segera pulang, dengan ancaman jika mereka tidak mau, maka ayahnya itu dianggap sudah tidak ada atau tidak diakui sebagai anaknya.


Mengingat hal itu akhirnya mereka pun mengalah dan memutuskan untuk pulang ke kampung halaman. Padahal di rantau mereka bisa dibilang hidup berkecukupan, bisa nabung, serta diperlukan dengan baik oleh masyarakat dan bos ditempat ia merantau tersebut.


Robert sendiri menjadi rebutan para gadis disana untuk mengasuhnya. Memang Robert tergolong anak laki-laki  yang sangat manis, lagi kekar. Sehingga para gadis menjadi terpesona dan terkesima dengan perawakan Robert kecil. Bahkan Robert sangat pantas jika nantinya ia menjadi seorang prajurit tentara atau ABRI.


Kemudian di sana selain menyadap karet, masyarakatnya juga memiliki banyak pohon durian. Dan kebetulan pada saat mereka datang ke tempat rantau tersebut durian sedang berbuah lebat serta siap untuk dipanen.


Tapi sayang mereka harus pulang dan meninggalkan itu semua, dan entah kapan akan kembali ke sana lagi.


Pada saat mereka berpamitan dengan masyarakat sana, tampak sekali terlihat bagaimana ekspresi kecewa, sedih, dan tidak ikhlasnya karena harus ditinggal pergi oleh keluarga Robert. Bahkan banyak mereka yang berjanji jika nanti keluarga Robert tidak kembali lagi ke sana, mereka akan menyusul ke kampung halaman mereka. Terutama para gadis kecil atau pengasuh Robert.


Hal itu karena mereka dalam hal ini para gadis pengasuh itu merasa sangat nyaman semenjak kehadiran keluarga si Robert, terutama dengan sikap kasih sayang yang tulus dari ibu Robert terhadap para gadis itu. Sehingga sampai ada seorang gadis cantik yang bertanya kepada ibunya, apakah ia memiliki adik atau saudara laki-laki, mungkin ia mau berkenalan, itu karena saking kagumnya mereka pada kelembutan dan ketulusan dari ibu satu anak itu.


Setelah sampai di kampung ternyata orang tua perempuan atau ibunya itu tetap mendapatkan perlakuan tidak baik dari orang tua bapaknya itu.


Pada awalnya mereka menggunakan pendapatan hasil dari kerja di rantau untuk membeli rumah kecil-kecilan hanya untuk tempat berteduh baik dari panas maupun hujan serta untuk berlindung dari dinginnya udara malam. Dan mereka pun menemukan apa yang dicari, yaitu sebuah rumah panggung yang sudah lumayan lapuk dan sudah hampir mau roboh. 


Tetapi meskipun mereka sudah mempunyai rumah sendiri, sang nenek juga tidak berhenti mengusik mereka. Bahkan suka menjelek-jelekkan mereka terutama menjelaskan sang ibu ditengah Masya desa.


Melihat hal itu mereka pun menjadi tidak tahan, sehingga mereka memutuskan untuk pergi lagi, namun karena takut dengan sesumbar neneknya, untuk itu mereka tidak pergi merantau, namun hanya keluar dari rumah orang tua ayahnya itu. Juga meninggalkan rumah yang sudah mereka beli tadi. Dan akhirnya mereka pindah ke perkebunan miliknya atau lahan hasil bukaan sendiri sebab dulu lahan itu adalah masih belukar dan belum ada pemiliknya hingga mereka pun menetap di sana sampai  Robert menginjak usia sekolah dasar. Bersambung....



Penulis adalah seorang sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastara Indonesia (PBSI) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Nurul Huda (Unuha). Saat ini mengabdikan diri disebuah Yayasan pendidikan swasta.

Komentar